04/01/12


BUN-IAN
Robby Subrata



Tahukah kalian. Ketakutan kalian terkadang berlebihan.
Kami ingin muntah jadinya. Jengah. Memuakkan.
Jangan salahkan kalau kami begini dan begitu. Suka-suka kami. Kalian bisa, kami juga bisa.

     Ini hidup yang sangat membosankan. Bagi kami. Bagaimana tidak. Kita hidup berdampingan kawan, dalam kebersamaan, kebahagian, kedukacitaan, tawa, canda dan beserta sanak saudaranya itu. Tatapi, kalian selalu menganggap kami ini sangat berbeda. Meskipun kenyataannya kami memang berbeda. Kalian katakan kalian takut, tapi kalian selalu ingin bertemu, kalian bahkan terbawa rindu. Mungkin. Kalian selalu menghujat, selalu markombur ria sepanjang malam menceritakan kami. Padahal kami bukan aktris atau pun aktor ternama yang wajah maupun nama kami terpampang seperti di layar tancap tempat biasa kalian nonton bersama atau layar tv dirumah.

     Kami berada dan hidup bersama kalian. Dirumah, kantor, sekolah, kampus, jalan raya. Namun, biasanya kami lebih senang hidup di daerah pegunungan, perbukitan dan daerah-daerah yang jarang kalian jamah. Tetapi inti pokoknya, dimana kalian kami pasti ada. Seperti yang kami katakan tadi kita ini hidup berdampingan. Kami adalah hidup dalam keberasamaan. Kami berkomunitas. Sama halnya seperti kalian, sering berkumpul dan bercengkrama. Menghabiskan hari-hari yang panjang dengan segala kegiatan yang kami lakukan. Ingat, kita sama namun berbeda.

     Malam mulai mengganyang pagi, siang juga petang. Warnanya kali ini lebih pekat dari kopi tubruk yang setiap malam di minum para lelaki tua di warung simpang lampu merah sambil membahas kebutuhan negara yang ntah sampai kapan selesai. Hmm... Kami hanya sebagai pendengar yang baik saja. Karena kami sadar. Itu bukan urusan kami. Kalaupun itu urusan kami, pasti masalah-masalah negara seperti itu telah lama kami selesaikan. Karena kami pandai membaca. Kegelapan yang pekat ini mungkin karena tidak ada cahaya yang masuk. Bulan dan bintang pun tak terlihat. Sunyi pun merayap melalui sela-sela jemari angin. Ribut suara serangga dan hewan malam terdengar. Ada yang jelas ada yang samar. Kami senang, akan adanya suasana ini. Sunyi, sepi, gelap dan lembab. Menjamah dalam gelap. Tempat tinggal yang paling nyaman.

     Kami bertemu kalian lagi. Bukan dirumah, kantor, plaza, mol atau disekolahan. Kita bertemu di salah satu tempat yang masih terjaga kehijaunnya, marga satwanya dan kesejukannya. Ya, kalian pasti tau dimana. Kali ini jumlah kalian genap sepuluh dan kalian berpasangan. Kami berharap kalian tidak melakukan hal-hal yang aneh di tempat tinggal kami. Meski sebenarnya bukan itu tujuan kalian. Haha... itu lucu. Kenapa? Kalian tidak bertanya? Baiklah kami beritahu. Itu lucu, lucu karena kami berkata begitu. Maksud dan tujuan kalian kami sudah tahu. Itu karena kami pandai membaca. Sudah kami katakan, kita ini sama. Sama-sama makhluk ciptaan-Nya. Kami pandai membaca, hanya saja membaca kami adalah membaca hati. Hati kalian wahai saudara-saudaraku. Manusia.

“Berdoa dulu ya”

     Salah seorang dari kalian mengajak berdoa sebelum memijak dan beranjak masuk kerumah kami. Ya, seperti yang kami katakan tadi. Kami pandai membaca hati. Kami pun tahu apa doa yang kalian sulut. Tetap, tidak pernah luput lindungan dari Allah SWT adalah yang utama, kemudian meminta keselamatan dalam perjalanan, dapat pergi dan pulang dengan selamat dan sebagainya. Kalian berdoa sangat dalam. Sampai-sampai kami ikut merasakannya. Kalian selesai. Malam semakin larut. Sunyi semakin kecut. Kalian beranjak dan masuk.

     Kalian memulai perjalanan. Angin berhembus pelan. Namun agaknya sedikit tajam, ia masuk perlahan dari pori dan menjalar keseluruh tubuh lalu ia mengkristalisasikan diri, membalut semua nadi dan saraf, menjadikanya beku yang terciptalah dingin yang teramat dingin di tubuh. Belum lagi gerimis pelan menyapa ketika kalian sampai disana. Kalian mulai dingin. Kami hanya menyaksikan. Di seperempat perjalanan kalian menukar nama. Kalian memanggil satu sama lain dengan angka. Satu, dua, tiga, empat lima, enam tuju sampai di angka sepuluh. Entah apa yang dipercayaai kalian tentang kami. Dan tentang nama-nama itu. Bagaimana dengan kalian. Samakah? Ups, sebenarnya kami tahu maksud kalian. Ya, kami tahu, bukankah kami pandai membaca. Membaca hati.

“Dua aman?”
“Aman bang.”
“Tiga?”
“Mantap.”
“Empat?”
“Sip bang.”
“Lima?”
“Oke.”
“Enam?”
“Alhamduliah lancar.”
“Tujuh?”
“Lanjut.”
“Delapan?”
“Sangat baik.”
“Sembilan?”
“Ada.”
“Sepuluh?”
“Mainkan terus.”

     Kalian saling mengingatkan dan memanggil untuk mengetahui posisi dari setiap orangnya.

***
     Malam semakin larut, kecut, asam dan buram juga gelap tentunya. Kalian masih tetap melanjutkan perjalanan. Bagai itik yang digiring pulang, kalian pun jalan sejajar kebelakang rapi. Setiap perjalanan kalian selingi dengan canda. Tertawa dan bahagia. Namun terkadang kalian berlebihan. Buat kami.  Kalian semua sama saja. Terlalu mempeributkan yang tidak perlu diributkan. Membuat kami jengah. Panas. Kalian juga pasti tahu apa itu. Bayangkan saja, ketika ada tamu datang kerumah kalian, membuat sesuatu yang tidak kalian suka. Kalian pikirkan saja sendiri. Itulah yang kalian lakukan. Apa pun itu. Kami emosi, marah. Wajah kami memerah seperti kantung susu sapi yang tengah diperah. Bahkan lebih merah, seperti besi yang dibakar sampai memuai. Akhirnya kami putuskan untuk sedikit bermain-main dengan kalian. Kami terkadang juga suka jahil dan usil. Kami sedikit nakal juga. Sama seperti kalian. Ingat, kita sama tetapi berbeda. Memberi sentuhan-sentuhan lembut dan mesra. Ada yang merasa. Ada yang menganggap biasa. Ada yang menganggap luar biasa. Ada-ada saja tentang rasa.

     Perjalanan terus berlanjut. Kaki kalian berirama melintasi jalan setapak. Kiri dan kanan penuh semak dan pohon. Suara gaduh hewan malam menjadi suara latar perjalanan mereka. Namun, tetap yang seperti kalian. Selalu saja mengulangi kesalahan yang membuat kami jengah. Seperti berada didalam angkot yang penuh sesak dan macet yang panjang. Gerah jadinya. Kami putuskan. Kami akan mengganggu kalian lagi. Perlahan kami meguntit orang yang paling belakang. Seperti rampok mendekati mangsa empun. Perlahan. Sudah kami katakan, kami ini nakal dan jahil juga usil. Kami mendekat. Terus. Perlahan. Dekat. Semakin dekat. Sangat dekat dengannya. Kami coba dekati dan meniup tengkuknya. Bulunya kuduknya berdiri. Dia merasakan. Kami dekati lagi. Kami ulangi lagiu. Dia menoreh kebelakang. Sayangnya ia tidak melihat wajah kami yang tepat dihadapannya. Tapi sepertinya ia bisa merasa. Ia langsung mendekati, bukan mendekati kami, sedikit cepat ia mendekati menuju teman didepannya.

“Sembilan?”
“Iya sepuluh. Ada apa?”
“Tidak ada apa-apa. Ayo lanjut.”
“Oke. baiklah.”

     Perjalanan kalian teruskan. Kami bisa membaca. Ingat. Kami tau apa didalamnya. Kami terus mengikuti. Bersama sunyi yang semakin sunyi. Malam tetap setia merangkul gelap. Sepi.

***

     Kami ini juga sama dengan kalian. Namun tetap ada perbedaan. Kami punya keluarga. Kami juga punya kehidupan. Kehidupan sendiri. Jadi kita sama. Kita sama-sama makhluk-Nya. Hidup dialam-Nya, makan dan tiggal di tempat ciptaan-Nya. Kita sama. Kita serupa. Namun kita berbeda. Ingat kita berbeda. Kalian tau bukan apa perbedaan kita. Jangan terlalu mendewakan kami. Kami pun tidak terlalu suka. Apalagi mempermainkan dan merendahkan kami. Kami lebih-lebih tidak suka. Ingat.

   Kalian sudah istirahat. Kalian sudah bangun dan sudah segar. Kalian sudah menjajaki tempat peristirahatan pertama. Kalian mulai mempersiapkan diri. Makan, membersihkan diri. Kami hanya menjadi penonton yang baik dan bijaksana.

“Kira-kira, berapa jam lagi kita sampai bang?”
“Sekitar dua sampai tiga jam lagi.”
“Baiklah. Ayo semangat.”

     Kalian memulai perjalanan. Kami pun ikut bersama mereka. Kami tertarik kepada mereka. Kami terus ikut. Kami telah memberi tanda. Dan ternyata kalianmengituti tanda kami. Perlahan kalian menemukan satu persatu tanda kami. Kami yang telah membuat tanda untuk mereka. Kami ingin bermain dengan mereka. Kalian pun terus mengikuti tanda itu. Tali kuling. Ya, kami membuat tanda menggukan tali kuling. Ternyata kalian tidak sadar. Kalian terus berjalan. Derak langkah pasti yang kalian buat, merupakan semangat luar yang besar. Kami bahagia. Sebab kami tertaik dengan kalian. Kami tertarik. Kalian terus mengikuti tanda. Kini kalian ikut permainan kami. Suasana cerah. Langit terang. Burung berkicau deras dari balik pepohonan.

“kenapa kita ngak sampai-sampai bang?”
“Tunggu ya, abang sedikit lupa jalannya.”
“kita salah jalan bang.”
“tunggu ya, abang lihat kebawah”

     Kalian turus menjacari jalan. Ternyata sudah ada yang menyadari kesalahan itu. Seperti yang sudah kami katakan. Kami pandai membaca. Membaca hati. Kami tahu ada salah seorang dari kalian dapat merasakan jauh lebih dalam. Namun, tetap saja. Kami yang memiliki rumah ini. Ini adalah daerah territorial kami. Silahkan saja kalau berani.

     Tiba saatnya. Kalian tiba pada titik itu. Bukan titik yang kami mau. Bukan pula yang kalian mau. Bukan titik tujuan kami. Tapi kalian telah sampai pada titik itu, titik hampa. Titik dimana harapan kalian nyaris sirna. Ketika semua mulai pupus. Letih dan lelah merajai pikir dan badan. Kalian nyaris kalah. Namun, akhirnya kalian memutuskan. Kalian putuskan untuk melanjutkan. Kalian mengandalkan ingatan akan perjalanan tempo lalu. Kami tersenyum manis. Kalian meneruskan perjalanan.

     Matahari tergelincir. Ia bersembunyi pada peraduannya. Senja menerawang lewat sela-sela pohon yang rindang. Indah menawan. Kami juga sama dengan kalian. Walau berbeda. Kami juga menikmati alam. Ini adalah ciptaan-Nya yang agung dan sempurna.

     Ternyata kalian menumu jalan. Kami hanya tetap memperhatikan. Kami tertarik dengan kalian. Kami terus mengikuti. Sebenar singa mengintai mangsa. Sebentar lagi perjalanan kalianberkahir. Tempat yang kalian tuju akan bertemu wajah. Wajah kalian yang bahagia bercampur dengan lelah.

“Sebentar lagi kita sampai!”
“betulnya bang?”
“iya, betul”
“alhamduliah. Akhirnya.”

     Derak langkah kalian terus berdentum ditanah. Meski suasana gelap, meski cahaya telah tersita oleh malam. Kalian tetap semangat. Sampai akhirnya kalian tiba di tujuan. Kebahagian kalian adalah hadiah untuk kerja keras. Sama halnya dengan perkerjaan. Dan kini, kalian menikmati keindahan atas segala mahakarya agung atas ciptaan-Nya.

     Namun kami tidak lantas bersedih. Kebahagian kalian tidak membuat kami terpuruk. Kenapa? Pasti kalian bertanya. Karena apa yang kami mau telah terpenuhi. Sudah kami katakana tadi. Kita ini sama. Walaupun berbeda. Kita sama hidup di dunia, tempat ciptaan yang Esa. Kita sama adalah ciptaan-Nya. Kita makan dan tinggal tempat yang sama, walau terbatas antara ruang dan waktu. Kita adalah memiliki rasa. Sama kami juga memiliki rasa. Suka, sayang, cinta dan sebagainya. Sudah kami katakan tadi, kami tertarik dengan kalian dan kami bisa membaca. Membaca hati. Kini selamat datang kami ucapkan.

Sketsa Kontan, November 2011

1 komentar:

 

Statistik

Google+ Followers

Blog M

BLOGger Medan