01/07/15

Eceng Gondok: Masalah Danau Toba yang Menguntungkan
Gerakan perubahan seorang Perempuan German boru Siallagan

Aksi brsih Eceng Gondok para peserta  Salam Ulos 2013

Danau toba dengan segala pesonanya mampu membius mata para peserta PJTLN (Pelatihan Jurnalistik Tingkat Lanjut Nasional) Salam Ulos 2013 yang diselenggarakan oleh rekan-rekan pers kampus dari Suara USU. Sebanyak 20 orang peserta  bergerak dari tempat lokasi pelatihan di Mes Pemkab Simalungun menuju salah satu tepian danau toba dan menunggu kapal yang digunakan untuk menyebrang menuju Pulau Samosir, dengan tujuan berkunjung sekaligus diskusi ke rumah salah seorang penggerak perubahan dan mungkin bisa dikatakan sebagai pahlawan untuk lingkungan yang ada di Danau Toba – Annette Horschmann. Tidak hanya kami  dan panita yang ikut, Andreas Harsono berserta istri dan anaknya – Sapariah Saturi dan Diana turut hadir. Marandus Sirait juga ikut serta bersama kami, yang juga selaku penggerak perubahan terhadap lingkungan –Danau Toba khususnya.

Tidak terlalu lama menunggu, kapal jemputan kami pun tiba. Panita mempersilahkan peserta untuk segera naik ke kapal. Setelah semua naik, nahkoda pun menghidupakn mesin kapal yang suaranya seperti mesin bubut ayam.

“dutdutdutdut-dutdutdutdut-dutdutdutdut.” Bising suara kapal terdengar.

Kapal bergerak mundur perlahan. Silau dan hangatnya mentari pagi membuat sebagian peserta nyinyir kepanasan, namun mereka tetap bersemangat. Badan kapal berbalik perlahan dan kami siap menuju sebrang.

 Sepanjang jalan, begitu banyak yang dapat di lihat. Tidak hanya pemandangan alam yang mempesona tapi juga culture masyarakat adat yang menarik untuk dinikmati. Tidak sedikit dari mereka yang naik perahu kecil, dari sekadar untuk bersantai, kemudian mencari ikan dan ada yang sibuk menggeser eceng gondok ke tepian danau mengenakan gala. Ini sungguh menyenangkan. Saya jadi tertarik untuk mencobanya.

Diskusi Santai di Tabo Cottages
Tidak terasa 20 menit beralalu. Tabo Cottages, tulisan yang saya lihat pada sebuah plang kayu berwarna coklat tua, dengan warna merah maroon pada garis atas yang terdapat dihuruf  “T” untuk Tabo. Menandakan kami telah sampai di lokasi tujuan, dan kapal pun meratap perlahan.

“wha… akhirnya sampai juga.” terdengar lepas lega salah seorang di kapal yang tak tau siapa.

Kami turun dari kapal, dan ternyata di bawah Annette telah menunggu. Tak ingin melepas kesempatan kami semua saling berjabat tangan dan mengabadikan moment bersejarah ini. Selesai berfoto, semua diarahkan ke salah satu tempat yang mengarah pada sebuah surau (tempat berkumpul)/gazebo dengan atap ijuk hitam dan tiang yang dibuat dari bambu dengan ikat tali bewarna hitam. Tempat yang santai. Langit-langitnya juga berupa bambu yang disusun apik. Tanaman, ditambah kicau burung dan udara sejuk benar-benar memberikan nuansa alam yang sempurna.


Annette Horschmann
Semua sampai, dan telah mengambil posisi nyaman duduknya. Diskusi pun dimulai. Annette yang berkulit putih mengenakan pakaian hijau dengan motif bunga bewarna putih dengan tato kecil pada kaki kirinya itu duduk santai diantara peserta dan panitia. Memulai pembicaraan dengan memperkenalkan dirinya.

Diskusi berjalan menyenangkan, dengan pembawaan Annette yang humor. Ia menjelaskan bagaimana Danau Toba yang indah ternyata banyak menyimpan sinyal-sinyal bahaya yang tidak lain dan tidak bukan akibat ulah manusia.  Akan tetapi masih banyak dari kita yang tidak sadar akan hal tersebut, termasuk mayarakat adat setempat. Mayoritas penduduk di Danau Toba menganggap  semua aman-aman saja. Padahal, semua hanya tinggal persoalan waktu, dan menunggu kehancuran. Akan tetapi Annete yang memang cinta akan alam dan keindahan melihat hal tersebut.
Annete yang juga penyuka  traveling menyatakan jatuh cinta dengan Indonesia, tepatnya Danau Toba. Hingga ia akhirnya menemukan cinta di tanah Batak ini. Ketika 20 tahun lalu datang ke Danau Toba sampai dengan sekarang ia telah berniat akan menjadikan Danau Toba menjadi lebih baik. Meskipun ia dianggap Crazy oleh keluarga dan kerabatnya, ia tidak perduli.

Salah satu kegilaannya adalah mengubah sesuatu yang dinaggap sampah menjadi berharga dan memiliki nilai jual. Eceng gondok, merupakan salah satu masalah yang ada di Danau Toba. Sebuah bunga yang biasanya dibiarkan  tumbuh di tiap-tiap kolam karena keindahan ketika mekar ini, kini menjadi virus bagi Danau Toba. 

Perseberahan dan pertumbuhannya yang tidak stabil menjadikan ini masalah. Mereka terus tumbuh dan tumbuh hingga akhirnya membentuk seperti pulau-pulau. Meskipun ini hanya persolan estetika, akan tetapi ini berdampak pada perkembangan wisata pada tahun-tahun berikutnya.

Namun, Annette datang dan mencoba menyadarkan masyarakat adat setempat dengan aksi kecil yaitu mengangkat eceng gondok tersebut dari danau. 

“So, tidak ada solusi lain daripada mengangkat.” Ujar Annette disela diskusi.

Tidak hanya mengangkat eceng gondok tersebut, tetapi Annette mengolahnya menjadi pupuk kompos. Awalnya ia tidak menyadari, namun ketika eceng gondok tersebut ia letakkan di tanah yang akan ditimbun, ternyata tanahnya menjadi gembur. Ketika ditanami jagung, betapa terkejutnya ia melihat tinggi pohon jagung tersebut mencapai empat meter. Luar biasa. Ditengah diskusinya, Annette memperagakannya dengan menaikkan tangan kanannya lebih tinggi dari kepala. Hal tersebut dikarenakan eceng gondok mengandung NPK (Nitrogen, Fospat dan Kalium) yang tinggi, yang mampu menyuburkan  dan menggemburkan tanah.

Banyak orang yang mencari dimana tempat membeli kompos, namun ternyata pasar untuk penjualan kompos tersebut masih sulit. Annette mencoba memberikan solusi kepada masyarakat adat setempat untuk membuat kompos sendiri.

“ daripada membeli lebih baik kita membuatnya sendiri” ujar boru sillagan itu.

 Annette pun mencari informasi bagaimana cara untuk membuat kompos, hingga akhirnya  ia menemukan informasi yang membuatnya semakin bersemangat lagi. Seperti magic, ia pun berhasil walau dengan pengetahuan yang terbatas. Meskipun ini dilakukannya hanya sebagai sampingan, akan tetapi banyak yang mencari komposnya tersebut. Terkadang ketika ada permintaan dari luar, dari para artis bahkan. Maka ia akan meminta bantuan dari pemuda-pemuda setempat untuk membuatnya.

Ini adalah peluang emas yang sebenarnya menjadi lahan untuk bisnis yang menjanjikan. Bagaimana tidak, tanpa modal besar kita  bisa meraup untung yang lumayan. Karena telah banyak orang yang sadar penggunaan pupuk non-organik tidak menguntungkan dan berbahaya tentunya bagi kesuburan tanah. Akhirnya mereka pun beralih pada yang alami “back to nature”. Sebenarnya tidak hanya kompos, kita juga dapat menyhulap eceng gondok menjadi barang-barang kerajinan tangan  yang menarik seperti tempat lampu, piring dan sebagainya yang di buat dengan cara dianyam.

Kegiatan Annette merupakan salah satu kegiatan yang dapat dilakukan untuk menjaga dan melindungi tanah dan bumi Tuhan. Hanya satu gerakan kecil, namun akhirnya menjadi model yang baik untuk di contoh. Kita tidak perlu terus-terusan mengikuti seminar dan workshop lingkungan kalau goal-nya tidak jelas, for what kalau kita hanya mampu secara teori, akan tetapi secara praktek tak ada pergerakan dan realisasi yang nyata.


“satu gerakan kecil dapat kita lakukan, seperti LISA (lihat sampah ambil) dan saya mengaplikasikannya di sini, kepada staff saya juga kepada anak-anak saya dan para tamu juga” ungkap Annette.


Foto bersama Andreas Harsono

Foto bersama Marandus Sirait 

Marandus Sirait - Pemilik Taman Eden 100

0 komentar:

Posting Komentar

 

Statistik

Google+ Followers

Blog M

BLOGger Medan